Pages

Tampilkan postingan dengan label Agroecology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agroecology. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012


Sistem Budidaya Agroforestry – Agrisilvikultur di Dusun Manggis, Desa Sukorambi, Kabupaten Jember
1.Pendahuluan
            Indonesia merupakan negera agraris yang kental dengan kondisi pertaniannya. Namun sayang kondisi pertanian Indonesia sekarang dapat dinilai kurang sehat.  Indikatornya adalah kemelorosotan lingkungan dan produktifitas tanaman  yang sekarang marak terjadi. Hal ini merupakan buah dari aktivitas manusia yang mempekerjakan alam dengan sewenang-wenang. Hal ini begitu memprihatinkan,  dan akan bertambah luas dampak negatifnya jika tidak segera dipulihkan. Untuk memulihkan itu semua diperlukan suatu konsep pertanian yang efektif dan efisien untuk kemudian ditindak lanjuti dengan implementasi nyata di lapanagan.
Agroforestry  atau  wanatani merupakan bentuk konsep pertanain yang efektif dan efisien dengan jalan  pemanfaatan lahan secara  terpadu yang melibatkan beberapa komponen seperti komponen kehutanan, komponen ternak dan komponen tanaman pangan/ hortikultura atau musiman.  Sebenarnya agroforestry adalah ilmu lama yang sudah diterapkan oleh sebagian masyarakat kita, namun ketambahan teknik-teknik baru yang lebih sesuai dengan teknologi yang ada. Di lapangan bentuk-bentuk agroforestri tersebut sangatlah beragam, diantaranya adalah agrisilvikultur.
Agrisilvikultur merupakan bagian dari agroforestri dimana komponen yang terlibat didalamnya adalah komponen kehutanan (tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian pada umumnya (serealia, hortikultura,musiman,dll). Agrisilvikultur banyak dijumpai disekitar perkampungan dekat hutan, atau hutan yang baru sjaa dibuka. Dulunya kita dengan mudah menjumpai hal tersebut, namun sekarang jumlahnya sudah merosot drastis. Hal ini dikarenakan oleh laju alih fungsi lahan kehutanan dan pertanian menjadi perumahan yang sangat cepat. Sebagai upaya manusia tentu saja, agrisilvikultur memiliki keunggulan dan kekurangan.
Keunggulan agrisilvikultur adalah produktifitas total agrisilvikultur jauh lebih tinggi dibandingkan monokultur, mengurangi resiko kegagalan satu jenis tanaman karena akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen lainnya, dapat menghasilkan diversitas (keragaman) yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada penanaman satu jenis (monokultur). Dampak kelanjutannya adalah dengan diversifikasi yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, melepaskan petani dari ketergantungan terhadap produk luar sehingga tidak memerlukan banyak input dari luar. Selain itu, praktek agrisilvikutur yang memiliki diversitas dan produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan kesinambungan) pendapatan petani. Selain itu menurut Rossy Widayanti (2010) sistem agrisilvikultur juga dapat digunakan untuk mengelola hutan secara lestari pada suatu kawasan konsesi hak pengusahaan hutan sepanjang dalam kawasan hutan tersebut sesuai dengan karakteristik suatu sistem Agrisilvikultur. Menurut Moeliono (1987) dalam Yusnafi (2007) agroforestry termasuk agrisilvikultur dapat mencegah dan mengurangi erosi tanah serta meningkatkan kesempatan kerja. Sedangkan kekurangan dari sistem agrisilvikultur adalah fokus petani dalam budidayanya berpencar, tidak menutup kemungkinan memerlukan biaya masukan yang lebih tinggi dibanding monokultur, perlu perencanaan yang lebih matang dan mantap mengingat semakin beragamnya diversitas yang dilibatkan semakin besar kompetisi yang harus diperhitungkan.
2.Data
Data yang berhasil kami himpun bersumber dari wawancara kami dengan petani (Bpk. Hasan/ P. Qom) yang menerapkan Agrisilvikultur di dusun Manggis desa Sukorambi, Kabupate Jember. Agrisilvikultur yang dikelola melibatkan tanaman sengon laut, mahoni, pisang, kopi, kelapa, talas dan ketela pohon. Penjelasan selengkapnya terlampir pada lembar Skor indikator keberlanjutan Sistem Pertanian berikut foto-fotonya.
3. Pembahasan
Praktek budidaya petani yang bernama P. Hasan/ P. Qom di Dusun manggis, Desa Sukorambi tercatat sebagai salah satu upaya agrisilvikultur. Sebagai agrisilvikultur karena pada penerapannya sudah melibatkan komponen tanaman woody plant (sengon laut, mahoni, kelapa) dengan tanaman pangan seperti tanaman pisang, kopi, talas dan ketela pohon. Agrisilvikultur tersebut bisa ditanam bersamaan ataupun bergiliran dalam suatu periode dan menciptakan suatu interaksi ekologi, sosial, ekonomi. Agrisilvikultur tersebut sangat berpotensi untuk dilanjutkan kearah sistem pertanian yang berkelanjutan dengan perolehan skor 83. Hal ini karena pada intinya penerapan agrisilvikultur memiliki tujuan untuk meningkatkan produktifitas lahan, kesempatan kerja, pendapatan petani, dan juga upaya pelestarian sumber daya lingkungan seperti air, tanah dan diversitas hayati. 
            Di Indonesia agroforestri sudah ditawarkan sebagai salah satu sistem pertanian yang berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya dilapangan tidak jarang mengalami kegagalan, karena pengelolaannya yang kurang tepat sebagaimana yang diutarakan oleh Mustofa Agung Sardjono, dkk (2003).  Selain itu pada agroforestri tepatnya agrisilvikultur yang salah pengelolaan justru akan menjadi faktor pembatas produksi. Berdasarkan penelitian SM Sitompul dan Djoko Purnomo (2004) pada hasil tanaman sistem agroforestri lebih rendah dibandingkan sistem naungan buatan. Perbedaan hasil tersebut disebabkan oleh minimnya pertimbangan akan kompetisi air, unsur hara, zat inhibitor dan lainnya yang mungkin terjalin diantara tanaman tersebut.
Ada beberapa indikator yang harus dipenuhi bilamana suatu agrisilvikultur hendak dikaitkan dengan sistem pertanian berkelanjutan. Indikator-indikator tersebut diantaranya indikator aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Diharapkan dengan terpenuhinya 3 indikator tersebut, suatu agrisilvikultur layak disebut untung secara ekonomis, ramah secara ekologis, dan sejahtera secara sosial.
            Tujuan dalam indikator ekonomis adalah untung (profit yang optimal).  Agrisilvikultur P. Hasan yang menjadi objek kajian kali ini sudah dapat digolongkan agrisilvikultur yang untung. Pada dasarnya fokus yang dibudidayakan disini adalah sengon laut dan mahoni. Outcome awal yang diperlukan adalah sekitar 500 ribu rupiah (biaya bibt lokal
+kuli tanam). Outcome lainnya sangatlah kecil karena lahan milik pribadi, digarap sendiri, dan tidak membutuhkan biaya perawatan. Sedangkan incomenya diprediksi Rp 12.000.000/5 tahun untuk sengon laut. Jika dihitung-hitung, pendapatan petani tersebut sekitar Rp 191.000/bulan. Angka yang cukup tinggi untuk luasan lahan yang hanya 200 mm2, dan hanya dijadikan sebgaai sumber pendapatan sampingan karena petani tersebut sudah memiliki pendapatan utamanya dari budidaya padi secara monokultur. Untuk mahoni belum pernah dilakukan pemanenan karena masih baru berusia 2 tahun. Untuk talas dapat menghasilkan sekitar 30 kg, dipasarkan dalam lingkup desa itu sendiri. Sedangkan untuk ketela pohon, kopi, pisang dan kelapa hanya dimanfaatkan secara subsisten untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri ataupun untuk keperluan antar tetangga bilamana sedang ada hajatan tertentu (kepentingan keluarga dan masyarakat disekitarnya).
            Secara ekologis, agrisilvikultur milik P. Hasan cukup ramah lingkungan. Penggunaan pupuk Urea  hanya satu kali disaat awal tanam  (1,5 bulan setelah tanam). Sumber air yang dilibatkan berasal dari air hujan dan sungai yang mengalir disekitar lahannya. Dapat dikategorikan membantu meningkatkan keragaman hayati, karena pada lahan agrisilvikulturnya ditanam berbagai jenis tanaman yang memungkinkan terciptanya suatu jaring-jaring makanan yang amat kompleks.  Masalah landscpape, menurut pengakuan dari pemiliknya tidak pernah sekali saja merubahnya, semuanya itu murni dari lancsape lahannya yang memang berteras-teras. Selain itu dalam prakteknya tidak diperlukan energi tambahan seperti listrik dan lainnya karena memang masih bersifat sangat tradisional. Begitu pula dengan benih sengon yang digunakan yang juga masih bersifat benih lokal dan dipasok dari penjual benih secar getok-tular dar mulut ke mulut.
            Ditinjau dari aspek sosial, minat petani untuk mengusahakan lahannya cukup tinggi. Meskipun si petaninya sendiri tidak terlalu memiliki kualitas pendidikan sampai pada tahap sarjana. Namun setidaknya petani tersebut aktif dalam solodaritas petani setempat yang bernama Sukorambi Jaya, buktinya adalah beliau dipercaya sebagai wakil dalam kelompok tani tersebut.  Menurut pengakuannya juga kondisi pertanian disana cukup aman dengan indikator tidak pernah ada masalah pencurian ataupun sengketa lahan. Selain itu respon maasyarakat ataupun konsumen dari produk kayu yang dia kelola juga dapat dikategorikan positif, dibuktikan dengan kerjasama yang harmonis antara beliau dengan pembeli kayunya. Hal ini mengindikasikan kepuasan konsumen yang cukup tinggi.
            Dari uraian itu semua, agrisilvikutur tersebut sudah menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Artinya agrisilvikultur tersebut memiliki modal yang memadai untuk terus dikembangkan mendekati sistem pertanian berkelanjutan yang lebih luas dengan tujuan akhir  masyarakat tidak lagi tergantung masukan komoditas pertanian dari luar serta terciptanya kedaulatan pangan disekitar daerah tersebut dengan pemanfaatan seoptimal mungkin sumber daya hayati yang ada, seperti diversivikasi makanan, tidak hanya bergantung pada beras namun sudah mulai melibatkan talas dan ketela pohon sebagai makanan pokok, pisang dan kelapa sebagai komponen buah, serta mahoni dan sengon untuk kebutuhan papan keluarganya atau masyarakat disekitarnya. 
4. Kesimpulan
            Agrisilvikultur adalah salah satu bagian dari agroforestri yang menggunakan lahan secara terpadu, mengkombinasikan tumbuhan berkayu dengan tanaman pertanian sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis dan sosial antar berbagai komponen yang ada. Agrisilvikultur yang menjadi objek kajian kali ini menunjukan kemajuan sempurna kearah keberlanjutan.
5.Pustaka
Rossy Widayanti.2010.Agri-silvikultur dan Pesanggem di wilayah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Ngawi, Saradan dan Lawu DS.Tesis.Progam Pasca Sarjana, Progam studi Magister Manajemen Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Surabaya.
Sardjono, Mustofa Agung dkk,.2003.Klasifikasi dan Pola Kombinasi Komponen Agroforestri Bahan Ajaran Agroforestry 2.Bogor:World Agroforestry Centre (ICRAF).
SM Sitompul dan Djoko Purnomo.2004.Peningkatan Kinerja Tanaman Jagung dan Kedelai pada Sistem Agroforestri Jati dengan Pemupukan Nitrogen.Jurnal Agrosains Vol 6 (2) hal: 79-83, 2004
Yunasfi.2007.Sosial Forestry dan Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan.Sumatra Utara:USU Repository.


                             Interaksi Mutualisme Lebah Penyerbuk dengan Tanaman  Bunga
1.Pendahuluan
            Dalam suatu lingkungan ekosistem  sudah pasti akan terjadi suatu interaksi antar komponen penyusunnya baik komponen abiotik maupun komponen biotik. Begitu juga yang terjadi pada agroekosistem. Agroekosistem sebagai salah satu ekosistem khusus diwilayah pertanian misalnya agroekosistem ladang, sawah dan kebun teh ternyata juga mampu menghadirkan interaksi timbal balik antara tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan faktor lingkungan pertanian seperti tanah, iklim, dan lain sebagainya. Interaksi yang timbul dalam suatu agroekosistem sangatlah beragam. Keberagaman tersebut disebabkan oleh keberagaman komponen biotik dan abiotik yang menyusun suatu agroekosistem.
Pengetahuan akan sifat interaksi 2 organisme atau lebih dalam suatu agroekosistem sangatlah penting dan bermanfaat. Sifat interaksi yang ada di agroekosistem sangatlah beragam mulai dari parasitisme, mutualisme, komensalisme, netralisme, sinekrosis, dan amensalisme. Dengan mengetahui sifat interaksi yang terjalin antar organisme disuatu lingkungan agroekosistem setidaknya  akan mempermudah dalam teknik budidaya dan penjagaan produktifitas suatu tanaman dari degradasi kualitas dan kuantitas dengan tetap menggunakan dana yang efisien.
Salah satu sifat interaksi yang paling menarik dikaji adalah mutualisme. Mutualisme meupakan sifat interaksi yang saling menguntungkan kedua belah pihak organisme yang saling berhubungan timbal balik. Di alam interaksi mutualisme itu ada 2 yaitu mutualisme simbiotik dan non simbiotik. Bedanya pada interaksi mutualisme simbiotik jikalau ada salah satu dari ke 2 organisme yang sedang berhubungan  tersebut mati maka akan berdampak pada penuruanan kualitas hidup organisme yang lainnya atau bahkan kematian. Sedangkan pada interaksi mutualisme non simbiotik itu tidak berlaku hal demikian, ketika ada salah satu komponen yang mati atau tiodak hadir dalam suatu agroekosistem, organisme yang lain tidak akan berdampak secara langsung. Contoh dari mutualisme  simbiotik adalah  mikoriza sedangkan contoh mutualisme non simbiotik  adalah simbiosis lebah penyerbuk dengan tanaman bunga. Simbiosis lebah penyerbuk dan bunga  lebih  sering dan lebih mudah kita jumpai apalagi saat berada di kebun bunga tak terkecuali di kebun rambutan  dan kebun wijen. Hal ini perlu dikembangkan dengan pengkajian lebih lanjut pada aspek-aspek pendukungnya seperti peranan dalam jaring-jaring makanan dan aliran energinya. Oleh karena itulah kami bermaksud untuk mengangkat topik tersebut dalam pembuatan tugas makalah kali ini.

2.Contoh
2.1 Interaksi mutualisme 5 jenis lebah penyerbuk (Trigona itama, Trigona nitriventris, Trigona canifrons, Trigona atripes, dan Apis indica) dengan pohon rambutan (Nephelium lappaceum L.). Latar tempat penelitian tersebut adalah kebun rambutan di daerah Balikpapan kalimantan Timur.
 2.2 Interaksi lebah madu (Apis mellifera L.) dengan tanaman wijen (Sesamum indicum  L.). Interaksi ini ditemukan di kebun wijen di daerah Nganjuk, Jawa timur

3. Pembahasan
Interaksi mutualisme antara lebah penyerbuk dan bunga pada 2 contoh diatas termasuk mutualisme non simbiotik. Dalam konsep interaksi mutualisme memang diklasifikasikan menjadi 2 yaitu non simbiotik dan simbiotik. Interaksi mutualisme berarti kedua belah pihak yang sedang berhubungan sama-sama mendapatkan manfaat. Lebah memperoleh keuntungan makanan berupa nektar pohon rambutan ataupun tanaman wijen  memperoleh keuntungan berupa jasa bantuan dalam proses penyerbukannya. Non-simbiotik dapat diartikan  apabila ada salah satu komponen organisme yang tidak hadir dalam agroekosistem tersebut tidak akan menyebabkan kematian pada organisme yang lain, seperti yang akan terjadi pada mutualisme simbiotik.
Baik pada agroekosistem kebun rambutan ataupun kebun wijen, energi masuk ke dalam ekosistem berupa energi matahari, tetapi tidak semuanya dapat digunakan oleh tumbuhan rambutan dan wijen dalam proses fotosintesis. Hanya 43% dari total sinar matahari yang bisa terpancar  di bumi. Dari 43 % sinar matahari yang berpancar di bumi hanya sinar-sinar  tampak dengan gelombang 400-650 nanometerlah yang bisa ditangkap pigmen hijau daun tumbuhan sehingga hanya sekitar 1-5 %, yang berhasil diubah tumbuhan menjadi bahan makanan seperti buah rambutan nektar dan lain sebagainya.
Dalam jaring jaring makanan, pohon rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan tanaman wijen (Sesamum indicum  L.) berperan sebagai produsen karena merupakan organisme autotrof. Dalam konsep aliran energi pada suatu agroekosistem, biasanya herbivora hanya mampu menyimpan sekitar 10 % energi berkat upaya transfer energi yang telah dilakukannya dengan si produsen. Pada agroekosistem tersebut, konsumen herbivora ditempati oleh lebah -lebah penyerbuk (Apis mellifera L., Trigona itama, Trigona nitriventris, Trigona canifrons, Trigona atripes, dan Apis indica) yang berperan memakan nektar dari bunga rambutan maupun bunga wijen. Transfer energi terjadi pada saat si lebah penyerbuk memakan nektar bunga rambutan ataupun bunga wijen. Pada akhirnya lebah penyerbuk  jantan tersebut akan mati dengan sendirinya karena pada umumnya umur dari lebah penyerbuk jantan hanyalah 21 hari.[3]
Pada tingkatan trofik konsumen karnivora hanya dapat menyimpan energi kurang dari 10 % karena energi  yang dikandung mangsanya yang dalam setiap tingkatan trofik akan mengalami kehilangan energi yang digunakan untuk pernafasan si organisme. Begitu pula yang terjadi pada konsumen tingkat 2 dan konsumen tersier.     
Selain lebah konsumen herbivora juga diduduki oleh ulat hantu (Hilleud jurig-sunda,red) yang memangsa daun rambutan [4]. Kedudukan konsumen tingkat 2 atau karnivora diduduki oleh semut hitam dan semut rangrang. Selanjutnya semut rangrang akan dimakan oleh burung. Dalam hal ini burung berperan sebagai konsumen karnivora tingkat 2 yang memangsa semut, tentu saja terjadi transfer energi ini dan energi yang didapat burung lebih kecil ketimbang energi yang didapat konsumen karnivora tingkat 1 ataupun konsumen herbivora. Selanjutnya burung akan dimangsa ular yang berperan sebagai konsumen tersier yaitu karnivora besar yang memangsa karnivora tingkat 2 . Baik produsen maupun konsumen pada akhirnya akan mati dan jasadnya akan diurai oleh bakteri, jamur dan mikroorganisme pengurai lain yang dalam jaring-jaring makanan berperan sebagai dekomposer. Dekomposer tersebut berperan mengurai jasad biologi menjadi unsur unsur yang lebih sederhana dan mudah dimakan tanaman rambutan dan tanaman wijen.    

4. Kesimpulan
            Contoh interaksi mutualisme non simbiotik yang terjadi diatas permukaan tanah yaitu interaksi lebah madu (Apis mellifera L.) / penyerbuk ( Trigona itama, Trigona nitriventris, Trigona canifrons, Trigona atripes, dan Apis indica) dan tanaman berbunga seperti wijen (Sesamum indicum  L.) dan rambutan (Nephelium lappaceum L.). Tanaman wijen  dan rambutan  berperan sebagai produsen. Sedangkan lebah madu  / penyerbuk berperan sebagai konsumen herbivora karena mereka memperoleh makanannya berupa nektar.  

5.Pustaka
Anonim.2008.Lebah dan Madu .(Online).http://lebahdanmadu.blogspot.com/Tanggal diakses 2 maret 2012.
Eko.2011.predator ulat bulu paling efektif adalah semut.(Online).http://forum.kompas.com/green-global-warming/35538-predator-ulat-bulu-paling-efektif-adalah-semut.html.Tanggal diakses 3 maret 2012.
Herry,ariek.2011.Jenis dan Fungsi Lebah Madu.(Online).http:www.arbainweb.com/taukah-anda/125-jenis-dan-fungsi-lebah-madu.html.Tanggal diakses 3 maret 2012.
Hariyono,budi.Tanpa tahun. Potensi Bunga Wijen (Sesamum indicum L.) Sumber pakan Lebah Madu.Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.Malang.
Staf Peneliti Herbarium Bogoriense.1986.Penyerbukan Pada Rambutan (Nephelium lappaceum L.).Ilmu Pert. 4 (2).Lembaga Biologi Nasional.Bogor.hal 75-77


[1] Hariyono,budi.Tanpa tahun. Potensi Bunga Wijen (Sesamum indicum L.) Sumber pakan Lebah Madu.Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.Malang
[2] Anonim.2008.Lebah dan Madu .(Online).http://lebahdanmadu.blogspot.com/Tanggal diakses 2 maret 2012.
[3] Herry,ariek.2011.Jenis dan Fungsi Lebah Madu.http:www.arbainweb.com/taukah-anda/125-jenis-dan-fungsi-lebah-madu.html.Tanggal akses 3 maret 2012.
[4] Eko.2011.predator ulat bulu paling efektif adalah semut.(Online).http://forum.kompas.com/green-global-warming/35538-predator-ulat-bulu-paling-efektif-adalah-semut.html.Tanggal diakses 3 maret 2012.

Kamis, 22 Maret 2012

Aspek Terminologi Agroekologi

1.    Mengapa Agroekologi penting dipelajari di Fakultas Pertanian ?
Karena Agroekologi merupakan solusi dari masalah yang dihadapi pertanian saat ini, yang sudah sewajarnya menjadi beban moril atau tanggung jawab para akademisi di bidang pertanian termasuk mahasiswa Fakultas Pertanian yang nantinya akan menjadi generasi pembangun bidang pertanian. Masalah yang menghadang dunia pertanian saat ini adalah tingkat produksi dengan laju peningkatan yang kecil namun berimbas pada pengrusakan agroekosistem yang begitu besar. Contoh kecil diantaranya adalah kasus degradasi kuantitas bahan organik di kawasan Jember Selatan.
Dengan belajar atau mendalami Agroekologi, para mahasiswa Fakultas Pertanian akan mulai menyadari betapa pentingnya menjga agroekosistem suatu wilayah dengan tetap berorientasi pada produktifitas. Hal tersebut disebabkan oleh 4 sifat inti yang diajarkan dalam Agroekologi yaitu produktifitas, stabilitas, keberlanjutan dan keseimbangan. Sifat produktivitas  dapat dijadikan tolak ukur penentuan ukuran optimal suatu agroekosistem yang disesuaikan dengan daya dukung agroekosistem wilayah tersebut, sehingga dapat dihindari tindakan pengeksploitasian agroekosistem jauh diluar batas optimal. Sehingga akan terwujud suatu kestabilan berproduksi secara konstan dari waktu ke waktu. Kestabilan berproduksi secara terus menerus tanpa menurunkan daya dukung agroekosistem merupak aplikasi sifat ke 3 yaitu Keberlanjutan. Keseluruhan aktifitas tersebut harus selalu memperhatikan keseimbangan antara  kebutuhan lingkungan, ekonomi dan sosial-budaya.
 Harapannya dengan pembelajaran 4 elemen sifat agroekologi itu mahasiswa dapat lebih bijak menjalankan usaha taninya ataupn ketika mereka menghadapi suatu problematika dalam usaha taninya. Jika semua mahasiswa Fakultas Pertanian yang menjadi tulang punggung roda pertanian bangsa ini sudah sadar akan keseluruhan konsep Agroekologi maka dapat dijamin pertanian bangsa ini akan berangsur angsur membaik, baik secara ekonomi maupun lingkungannya.

2.    Apa hubungan antara Agroekologi dengan Pertanian berkelanjutan ?
Agroekologi adalah dasar untuk menuju Pertanian Berkelanjutan. Pertanian Berkelanjutan adalah pertanian dengan basis lingkungan artinya keberlangsungan pertanian tetap ada, tetap berproduksi dan bermanfaat bagi semua namun tidak menimbulkan bencana bagi lingkungan dan mahluk hidup lainnya. Untuk mencapai model pertanian seperti itu harus diberangkatkan dari pemahaman akan pentingnya mempertahankan fungsi ekologis dari agroekosistem dengan tidak mengenyampingkan terlalu jauh aspek profit. Dengan adanya agroekologi, pemahaman pengelolaan usaha pertanian yang ditanamkan adalah pertanian yang berbasis produktifitas, stabilitas, keberlanjutan, dan keseimbangan. Ke 4 sifat tersebut merupakan kunci dari terwujudnya pertanian berkelanjutan.  Penekanannya pada sifat keberlanjutan dan stabilitas yang berarti kontiunitas berproduksi dengan tetap menyelamatkan ekosistem lingkungan pertanian.
Konsep dasar Agroekologi adalah penerapan prinsip prinsip ekologis dalam hal produksi pertanian dan pengelolaan agroekosistem. Agroekologi merupakan titik tolak untuk mulai menyadarkan masyarakat  dunia  bahwasanya model pertanian yang marak saat ini hanya berorientasi profit dan mengenyampingkan lingkungan sehingga tidak akan mungkin tercapai Pertanian Berkelanjutan. Buktinya banyak ditemukan penurunan kualitas ekosistem lingkungan pertanian. Oleh karena itulah agroekologi hadir sebagai disiplin ilmu yang mampu mengelola agroekosistem sekaligus meningkatkan produktifitas.
Fakta bahwasanya agroekologi adalah dasar menuju pertaian berkelanjutan adaapt diambil dari  laporan Olivier de Schutter,  Reporter Khusus PBB tentang Hak untuk Pangan yang menunjukkan bahwa agroekologi atau eco-farming (pertanian ekologis) telah dapat melipatgandakan berbagai jenis produksi makanan di seluruh daerah dalam waktu 10 tahun. Eco-farming ini juga bisa menjadi mitigasi perubahan iklim dan mengurangi kemiskinan di pedesaan. Laporan agroekologi dan hak atas pangan De Schutter's tersebut telah dipresentasikan kepada Dewan HAM PBB pada 8 Maret 2011 dengan menggambarkan  literatur ilmiah terbaru untuk mendukung kesimpulannya: "bukti ilmiah menunjukkan bahwa metode agroekologi mengungguli penggunaan pupuk kimia dalam mendorong produksi pangan dimana ada kelaparan utamanya di lingkungan yang kurang baik".
Bukti lainya adalah peningkatan lahan sebesar 214% dalam 44 proyek di 20 negara di sub-Sahara Afrika yang menggunakan teknik pertanian agro-ekologi selama 3 sampai 10 tahun. Peningkatan ini dinilai jauh lebih banyak daripada peningkatan yang ditimbulkan dengan diterapkannya tanaman rekayasa genetik (transgenik) yang pernah dilakukan. Hasil kajian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa petani-petani kecil di 57 negara yang menggunakan teknik agroekologi memperoleh peningkatan produksirata-rata 80 persen. Di Afrika rata-rata meningkat 116 %. Jadi dengan diterapkannya Agroekologi, perlahan namun pasti Pertanian Berkelanjutan akan terwujud.

3.    Apa hubungan antara Agroekologi dengan Agrolandscape (Pertamanan) ?
Agroekologi merupakan pedoman dalam menjalankan Agrolandscape (Pertamanan). Agrolandscape (Pertamanan) adalah salah satu kegiatan pengelolaan agroekosistem karena pertamanan termasuk kegiatan berskala ruang yang didalamnya terjadi interaksi fungsional  antara komponen abiotik dengan komponen biotik namun tetap lebih menekankan pada segi keindahan (estetika). Pengelolaan agroekosistem adalah salah satu cakupan dari agroekologi yang selalu menerapkan disiplin prinsip ekologis. Jadi dalam setiap perencanaan pertamanan haruslah mengindahkan pertimbangan-pertimbangan agroekologis dengan tambahan muatan estetika atau keindahan seoptimal mungkin.
Pertamanan sebagai  salah satu agroekosistem harus diupayakan dikelola dengan sadar, terencana dan bijaksana sesuai dengan konsep 4 sifat Agroekologi yaitu produktifitas, stabilitas, keberlanjutan dan keseimbangan. Hal ini sesuai dengan ketentuan umum Pasal 1 Undang-Undang RI nomor 3 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hudup. Oleh karena itulah  terdapat hubungan nyata antara pertamanan dan agroekologi.